KOMPONEN AC MOBIL

Setiap unit AC Mobil terdiri atas beberapa kompnen yang saling melengkapi satu sama lain. Komponen tersebut dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian yaitu komponen utama, komponen pendukung, dan komponen kelistrikan.

 

A.     Komponen Utama

 

a.       Kompresor

Kompresor merupakan komponen yang bekerja memompa refrigerant agar dapat bersikulasi ke seluruh unit AC mobil, sehingga terdapat perbedaan tekanan, baik sebelum atau sesudah masuk refrigerant sebagai ‘darahnya’. Pada bagian masuk kompresor  tersebut sebagai daerah tekanan rendah dan bagian keluar kompresor disebut sebagai daerah tekanan tinggi.

Tenaga penggerak kompresor untuk mensirkulasikan refrigerant berasal  dari tenaga mesin. Dengan perantaraan belt, pulley,  dan magnet  cluth, kompresor dapat berputar seirama dengan putaran mesin. Dengan adanya pembagian tenaga mesin untuk menggerakkan kompresor, maka beban mesin akan bertambah, sehingga secara otomatis konsumsi bahan bakar pun meningkat. Begitu vitalnya fungsi kompresor dan sistem AC  mobil, sehingga perlu diperhatikan kondisi maupun perawatannya. Jangan sampai karena kurang perawatan menyebabkan AC Mobil tidak bekerja.

Kompresor yang  terdapat pada unit AC memiliki berbagai tipe, bentuk, dan ukuran yang berbeda-beda. Diperlukan pengetahuan dan pemahaman cara kerja untuk masing-masing tipe kompresor, sebab kebutuhan pendinginan pada tiap-tiap kendaraan juga berbeda. Tipe kompresor  dapat  dibagi menjadi tiga jeni sebagai berikut.

 

 

  1. Kompresor Tipe Resipro (Crank Shaft)

Kompressor  tipe ini bekerja dengan memanfaatkan gerak putar dari mesin yang diterima oleh crank shaft  kompresor. Crank shaft adalah poros berputarnya kompresor.  Di dalam kompresor, gerakan putar dari crank shaft diubah menjadi gerakan naik dan turun dengan sistem mekanis. Karena didalam kompresor berisi refrigerant  dan oli pelumas, ruangan kompresor harus kedap dan rapat (tidak ada kebocoran). Untuk mengurangi kebocoran refrigerant dari ruangan kompresi ke crank shaft, terpasang cincin (ring) pada toraknya.

D dalam kompresor tipe respiro terdapat dua macam katup (valve), yaitu suction valve dan discharge valve. Suction valve merupakan katup yang terletak di bagian bawah valve plate dan discharge valve terletak di bagian atas valve plate. Saat torak bergerak turun, discharge valve pada posisi tertutup, sebab tekanan refrigerant  pada sisi discharge lebih besar dibandingkan tekanan di dalam silinder. Pada saat yang sama, suction valve terbuka akibat terjadinya kevakuman didalam silinder, sehingga refrigerant masuk ke dalam silinder. Saat piston bergerak naik, refrigerant di dalam silinder di pompa keluar melalui discharge valve dan dialirkan ke kondensor  dengan tekanan dan temperatur  yang tinggi.  Akibatnya, suction  valve tertutup karena tekanan di dalam silinder lebih tinggi daripada tekanan di sisi isap.

 

       2.      Kompresor  Tipe Swash Plate

Pada kompresor  jenis  ini, gerakan piston diatur oleh swash plate pada jarak tertentu dengan 6 atau 10 jumlah silinder. Ketika salah satu sisi pada piston melakukan langkah tekan, maka sisi yang lainnya melakukan langkah isap. Pada dasarnya, proses kompresi  pada tipe ini sama dengan proses kompresi pada kompresor tipe crank shaft. Perbedaannya terletak pada adanya tekanan oleh katup isap dan katup tekan. Selain itu, perpindahan gaya pada tipe swash plate tidak melalui connecting rod, sehingga getarannya lebih kecil.

 

         3.      Kompresor Tipe Wobble Plate

Sistem kerja kompresor  tipe ini sama dengan kompresor tipe swash plate. Namun, dibandingkan dengan kompresor tipe swash plate, penggunaan kompresor tipe wobble plate lebih menguntungkan diantaranya adalah kapasitas kompresor dapat diatur secara otomatis sesuai dengan kebutuhan beban pendinginan. Selain itu, pengaturan kapasitas yang bervariasi akan mengurangi  kejutan yang disebabkan oleh operasi kopling magnetik (magnetic cluth). Cara kerjanya, gerakan putar dari poros kompresor  diubah menjadi gerakan bolak-balik oleh pelat penggerak (drive plate) dan wobble plate dengan bantuan guide ball. Gerakan bolak-balik ini selanjutnya diteruskan ke piston melalui batang penghubung. Berbeda dengan jenis kompresor swash plate, kompresor  tipe wobble plate hanya menggunakan satu piston untuk dua silinder.

Meskipun jenis kompresor di atas mempunyai cara kerja yang berbeda, tetapi pada prinsipnya sama, yaitu menekan refrigerant dan membentuk kecepatan laju aliran massa refrigerant sebagai fluida kerja dalam sistem pendinginan. Sebenarnya masih ada tipe kompresor lainnya, yaitu tipe rotary vane dan scroll compresor, tetapi jarang sekali digunakan.

 

 

b.      Kondensor

Kondensor adalah alat penukar panas, lebih  tepatnya membuang panas dari refrigerant setelah dikompresi oleh kompresor. Sebelum masuk ke kondensor, temperatur refrigerant masih tinggi, tetapi di dalam kondensor temperatur refrigerant didinginkan oleh udara dengan bantuan kipas(extra fan). Setelah keluar dari kondensor, temperatur refrigerant menjadi lebih dingin. Fungsi kondensor mirip dengan radiator yang mendinginkan air pada mesin mobil.

Refrigerant merupakan zat yang mudah berubah bentuk. Melalui kondensor, refrigerant yang berbentuk gas, bertekanan, dan temperatur tinggi diubah bentuknya menjadi cair dengan tekanan yang stabil dan memiliki temperatur lebih rendah. Kondensor berbentuk pipa panjang yang berleluk-lekuk sebagai tempat mengalirnya refrigerant. Pipa kondensor juga dilengkapi dengan fin atau sirip-sirip yang dapat membantu proses pendinginan refrigerant. Lancar atau tidaknya aliran udara pendingin yang melalui motor kipas, akan berpengaruh terhadap kinerja unit AC mobil secara keseluruhan. Tersumbatnya kondensor karena kotoran misalnya, akan berpengaruh terhadap hasil pendinginan refrigerant, sehingga AC mobil akan terasa kurang dingin. Oleh sebab itu, membersihkan sirip-sirip kondensor sangatlah penting dan harus dilakukan secara rutin. Selain itu, kerusakan kondensor juga bisa terjadi karena adanya kebocoran, kotoran, debu, dan lumpur.

 

 

c.       Katub Ekspansi (Orifice Tube)

Komponen ini berfungsi menurunkan tekanan dan temperatur refrigerant, sehingga menimbulkan efek dingin pada evaporator sebelum diembuskan ke ruang kabin. Proses membuka dan menutupnya katub ekspansi dilakukan oleh thermostat (sensing bulb). Ketika suhu dalam kabin tinggi (panas), maka katup ekspansi akan terbuka lebar, sehingga aliran refrigerant lebih banyak digunakan untuk mendinginkan suhu kabin yang tinggi. Sebaliknya saat suhu dalam kabin rendah(dingin), katup ekspansi akan terbuka sedikit, sehingga aliran refrigerant lebih sedikit.

Katup ekspansi yang digunakan untuk menurunkan tekanan dan suhu refrigerant ternyata lebih populer dibandingkan dengan pipa kapiler. Hal ini disebabkan kondisi operasi kendaran yang berubah-ubah, salah satunya adalah variasi kecepatan putaran mesin. Penyebabnya adalah kompresor  yang digerakkan langsung oleh mesin melalui kopling magnetik (magnetik cluth). Dengan adanya perubahan putaran mesin, putaran kompresor pun akan berubah. Jika menggunakan pipa kapiler, perubahan laju aliran refrigerant akibat perubahan putaran kompresor tersebut tidak dapat dikontrol. Namun, jika menggunakan katup ekspansi yang dilengkapi dengan sensing bulp (thermostat) laju aliran refrigerant dapat dikontrol, sehingga aliran refrigerant selalu dalam kondisi optimal.

Selain menurunkan suhu dan tekanan refrigerant, katup ekspansi juga berfungsi mengatur banyaknya refrigerant yang mengalir di dalam sistem AC mobil. Banyaknya aliran refrigerant disesuaikan dengan beban panas pada evaporator. Pengaturan aliran ini dilakukan dengan cara mengatur bukaan celah katup ekspansi, sesuai dengan temperatur refrigerant yang keluar dari evaporator. Di lapangan, dapat ditemukan beberapa jenis katup ekspansi, tetapi yang paling banyak digunakan adalah jenis katup ekspansi thermostatis (thermostatic expansion valve), yaitu katup ekspansi yang menggunakan sensor panas. Katup ekspansi thermostatis terbagi menjadi dua bagian, yaitu internal equalizer dan eksternal equalizer. Tipe katup ekspansi terbaru adalah tipe box yang merupakan bagian dari eksternal equalizer. Pada dasarnya, kedua tipe katup ekspansi tersebut mempunyai kerja yang sama, perbedaannya terletak pada posisi sensor tekanan pada evaporatornya.

Komponen AC Mobil yang digunakan untuk menurunkan tekanan refrigerant selain pipa kapiler dan katup ekspansi adalah orifice tube. Pada orifice tube terdapat sebuah lubang kecil yang berdiameter tetap sebagai media aliran  refrigerant. Namun, komponen orifice tube jarang sekali digunakan pada unit AC mobil di Indonesia. Biasanya digunakan pada mobil-mobil keluaran Eropa atau Amerika, seperti Ford Motor Company dan General Motor.

 

 

d.      Evaporator

Komponen AC mobil ini berfungsi mengubah cairan refrigerant(freon) menjadi gas dingin. Pada evaporator terjadi proses evaporasi, yaitu penguapan freon fasa cair menjadi fasa uap. Evaporator merupakan sebuah alat penukar panas, yaitu mengubah refrigerant (freon) dari yang semula berwujud cair berubah menjadi gas (berlawanan dengan fungsi kondensor). Panas udara di sekitar kabin diserap oleh evaporator saat melewatisiri-sirip pipanya, sehingga saat keluar, udara berubah menjadi dingin. Proses sirkulasi udara dingin tersebut dibantu oleh blower Indoor.

Bentuk evaporator mirip dengan kondensor, tetapi mempunyai prinsip kerja yang berbeda. Keduanya merupakan komponen yang sangat penting dan berpengaruh terhadap efisiensi kerja sistem pendinginan secara keseluruhan. Seringkali kita menemukan kerusakan komponen evaporator, ditandai dengan adanya kebocoran. Kotoran yang menumpuk dapat menyebabkan evaporator mengalami pengeroposan (korosi), sehingga sirip-sirip pipa evaporator perlu dibersihkan karena akan memengaruhi laju perpindahan panas. Jika sirip-sirip pipa evaporator tersumbat penyerapan panas tidak berjalan dengan baik, sehingga AC akan terasa kurang dingin.

 

 

          B.      Komponen Pendukung

 

a.       Receiver (Filter Dryer)

Komponen receiver atau filter dryer sering digunakan pada AC mobil yang menggunakan  katup ekspansi dalam sistem penurunan tekanan refrigerant. Bagian ini diletakkan di antara kondensor sebelum katup ekspansi. Di dalam receiver terdapat saringan (filter) dan pengering (dyer) yang berfungsi menyerap kotoran dan air yang bawa ketika bersikulasi bersama refrigerant.Filter terpasang pada saluran keluar receiver bagian dalam. Filter ini terbuat dari tembaga kasa dan berfungsi sebagai menyaring kotoran yang tidak masuk ke katup ekspansi.

Receiver merupakan tempat penyimpanan refrigerant sementara setelah dicairkan oleh kondensor sebelum masuk ke katup ekspansi. Fungsi lainnya adalah penyaring kotoran dalam sistem sirkulasi AC. Kerusakan receiver seringkali sebabkan adanya timbunan yang terbawa oleh kondensor dan menyebabkan penyumbatan. Jika receiver (filter dryer) rusak, suhu AC menjadi tidak stabil dan seringkali berubah-ubah. Receiver (filter dryer) juga berfungsi memisahkan kadar air dan kotoran yang terbawa saat bersikulasi bersama refrigerant.

Bagian atas receiver terdapat sight glass, berfungsi  mengetahui kondisi refrigerant dalam sistem

AC. Di dalam dryer berisi desiccant (zat yang dapatmenyerap uap air) yang berupa silicagel untuk penggunaan R-12 dan zeolit untuk penggunaan R-134 a(lihat tabel perbedaan R-12 dan R-134a.

 

b.      Accumulator

Accumulalor biasanya digunakan pada sistem AC mobil yang menggunakan orifice tube sebagai alat penurun tekanan refrigerant setelah kondensor. Accumulator terletak diantara evaporator sebelum kompresor. Accumulator berfungsi sebagai alat penampung sementara refrigerant cair yang bertemperatur rendah, serta campuran minyak pelumas dari evaporator. Bahan refrigerant yang telah disimpan dan berupa gas, dialirkan dari bagian atas accumulator melalui saluran isap menuju ke kompresor. Accumulator juga berfungsi mencegah refrigerant cair agar tidak mengalir ke kompresor. Sebab, refrigerant yang masuk ke kompresor harus dalam bentuk gas atau uap. Sama seperti receiver, di dalam accumulator juga terdapat desccant.

 

c.       Minyak Pelumas(Oli Kompresor)

Oli Kompresor pada sistem AC berfungsi sebagai pelumas bagian-bagian kompresor yang bergesekan, sehingga mampu meredam panas dan melancarkan pergerakan bagian-bagian kompresor. Sebagian kecil dari oli kompresor bercampur dengan refrigerant(freon) dan ikut bersikulasi melewati kondensor dan evaporator. Minyak pelumas harus memenuhi persyaratan sebagai berikut.

  1. Mepunyai struktur kimia yang stabil, tidak mudah bereaksi dengan refrigerant(freon) atau benda lain yang digunakan pada sistem pendinginan.
  2. Tidak merusak bahan tembaga pada suhu 120OC
  3. Tidak mengandung air, ter, lilin, dan kotoran lainnya.
  4. Mempunyai nilai beku rendah. Artinya minyak pelumas masih dapat mengalir pada suhu yang rendah.
  5. Tidak berbusa, karena minyak pelumas yang berbusa dapat terbawa oleh bahan pendingin dan masuk ke kompresor, sehingga dapat merusak katup kompresor.
  6. Mempunyai dielektrik (tidak dapat menghantarkan listrik) yang kuat.
  7. Dapat memberikan pelumasan yang baik pada temperatur tinggi maupun rendah.

 

Jenis pelumas yang digunakan untuk freon R-134a adalah polyalkyleneglycol(PAG), sedangkan untuk freon R-12 adalah minyak pelumas mineral. Oleh sebab itu, minyak pelumas R-12 tidak dapat digunakan untuk freon R-134a, karena tidak akan tercampur dengan refrigerant.

Proses penyaluran dan jenis minyak pelumas pada tiap-tiap kompresor berbeda-beda. Minyak pelumas yang disalurkan ke kompresor tipe resipro adalah dari bagian bawah kompresor (di bak alas kompresor)yang di isap oleh pompa yang terpasang di bagian belakang kompresor. Kemudian minyak pelumas yang masuk ke dalam saluran poros engkol dialirkan untuk kedua jurusan, yaitu ke bagian bearing muka-belakang dan ke dinding piston melalui pena piston. Minyak pelumas yang sudah disalurkan ke bagian-bagian tersebut akan kembali lagi ke bak alas kompresor untuk edaran berikutnya.

Pada kompresor tipe swash plate, terdapat plat rotasi miring yang menggerakkan piston ke kanan dan ke kiri. Minyak pelumas yang keluar dari saluran dalam poros engkol mengalir hingga ke permukaan plat rotasi miring dengan gaya sentrifugal. Minyak pelumas yang terhambur dengan putaran plat rotasi rotasi miring ini mampu melumasi gesekan piston, sehingga tidak cepat aus.

 

d.      Shaft Seal

Refrigerant dan minyak pelumas dalam kompresor sangat rentan terhadap kebocoran, baik saat kompresor sedang berjalan maupun berhenti. Komponen untuk mencegah kebocoran minyak pelumas dan refrigerant adalah shaft sheal (penyekat refrigerant) pada poros. Komponen ini trediri atas dua bagian, yaitu shaft seal dan plate seal. Shaft Seal terdiri atas dua jenis, yaitu mechanical seal dan lip seal. Biasanya, kebocoran refrigerant terjadi melalui komponen ini, sehingga pemeriksaan rutin sangat diperlukan. Akibat kebocoran pada komponen ini, refrigerant perlu ditambah setiap satu atau dua tahun sekali. Shaft Seal terdiri dari gelang penahan, o-ring, ring karbon, dan plat seal. Plat seal yang tertahan rapat oleh gelang penahan dengan ring karbon akan tertekan oleh pegas, sehingga mampu mencegah kebocoran refrigerant dan minyak pelumas.

 

e.      Pipa Refrigerant

Pipa refrigerant AC mobil terbuat dari karet (pipa elastis) dan pipa logam yang tahan terhadap tekanan dan temperatur tinggi, serta tahan terhadap getaran. Bagian dalam pipa logam terbuat dari tembaga dan aluminium yang diproses dengan baik, sehingga lebih tahan terhadap unsur kimia dalam refrigerant. Demikian pula dengan pipa karet yang dibuat berlapis-lapis, agar lebih kuat menahan kebocoran dan reaksi unsur kimia.

 

f.        Iddle Up

Alat fungsi ini menaikkan putaran mesin apabila AC mobil dihidupkan saat putaran mesin masih idling (stasioner), sehingga mesin mobil terhindar dari beban yang berlebihan (overload). Iddle Up terdiri dari dua jenis, yaitu Vacuum Switch Valve (VSV) dan Throtle Position (TP).

 

          1.       Vacuum Switch Valve (VSV)

Pada vacuum switch valve terdapat komponen coil magnet, compression spring, dan moving core. Coil magnet pada VSV terhubung secara paralel dengan magnetic clutch padakompresor, sehingga apabila magnetic cluth bekerja, coil magnet pada VSV akan menimbulkan tenaga magnet.

 

       2.       Throtle Position (TP)

Pada Throtle position (TP) terdri atas diafragma dan throtle valve. Dalam hal ini, VSV berfungsi mengatur ruang diafragma pada TP, sehingga ruang diafragma tersebut dapat terhubung dengan sumber vacuum (vacuum tank) dan disaat tertentu terhubung dengan udara luar. Pada saat AC mobil dihidupkan dan mesin mobil dalam keadaan stasioner, maka coil magnet pada VSV akan bekerja dan menimbulkan tenaga magnet. Tenaga magnet tersebut akan menggerakkan moving core untuk menghubungkan ruang diafragma dengan vacuum tank.

Sistem kerja TP dimulai ketika terjadi kevacuuman pada vacuum tank. Throtle set akan bergerak dan mengubah posisi venturi karburator ke arah penambahan bahan bakar, sehingga rpm mesin akan meningkat. Namun, ada juga yang tidak menghandalkan tingkat kevacuuman, yaitu saat coil magnet pada VSV menimbulkan tenaga magnet, moving core pada VSV menghubungkan ruang diafragma dengan ruang atmosphere yang sebelumnya pernah terhubung dengan vacuum tank.Karena tidak adanya kevacuuman pada ruang diafragma, maka kekuatan spring pada ruang diafragma akan mempengaruhi kerja throtle set pada TP. Dengan demikian posisi venturi pada karburator akan berubah ke arah penambahan bahan bakar, sehingga rpm mesin akan naik. Meskipun cara kerja keduanya sama, tetapi mengingat kontruksi karburator pada masing-masing mobil berbeda, makadibuat dua macam sistem kerja untuk mempermudah sistem pemasangannya.

 

          g.       Pulley dan Belt

Pulley berfungsi sebagai rumah belt. Pulley dan belt merupakan komponen penerus tenaga, yaitu meneruskan tenaga putar dari mesin menuju ke kompresor AC mobil. Terdapat beberapa jenis belt yang dipakai pada Ac mobil, diantaranya adalah v-belt dan ribbed belt. Perbedaan keduanya terletak pada bentuk dan kemampuan meneruskan tenaga pulley kompresor. Jenis ribbed belt memiliki kemampuan yang lebih baik dalam meneruskan tenaga dan tidak mudah slip.

 

       h.      Ekstra Fan (Kipas)

Ekstra fan berfungsi mensirkulasikan udara di dalam kabin dan di luar kabin. Motor blower terdapat di dalam kabin, sedangkan fan (extra fan) terletak di kondensor (di luar kabin). Blower pada kabin terdiri atas motor penggerak penggerak dan blower yang digerakkan. Umumnya, tipe blower yang sering digunakan adalah tipe sirrocco. Extra fan yang terdapat di luar kabin (pada kondensor) juga terdiri dari motor penggerak dan fan yang digerakkan. Umumnya yang digerakkan adalah fan tipe axial flow.

 

 

C.      Komponen Kelistrikan

 

         a.       Sakelar(Selector Switch)

Sakelar yang digunakan pada sistem AC mobil pada umumnya adalah jenis sakelar putar(rotary switch). Sakelar ini digunakan untuk mematikan dan menghidupkan kompresor, serta memilih kecepatan putaran blower evaporator. Sakelar terdiri dari tombol putar (menunjukkan posisi off, low, medium, dan high) dan terminal listrik.

Apabila tombol diputar pada posisi off, hubungan antarterminal terputus. Pada posisi low, sakelar akan menghubungkan terminal line ke posisi low dan komproser. Pada posisi medium, sakelar akan menghubungkan terminal line ke posisi medium dan kompresor. Pada posisi high, sakelar akan menghubungkan terminal line ke posisi high dan kompresor. Untuk mengetahui arus listrik yang menghubungkan antarterminal pada sakelar dapat menggunakan multitester.

 

         b.      Kopling Magnet(Magnetic Clutch)

Kopling magnet berfungsi memutus dan menghubungkan kompresor dengan penggeraknya (putaran mesin). Saat mesin mobil bekerja, pulley berputar karena dihubungkan oleh belt dengan putaran mesin. Dalam hal ini, kompresor tidak dapat bekerja sebelum kopling magnet dialiri arus listrik. Ketika sistem AC mobil di hidupkan, amplifier memberikan arus listrik yang cukup ke coil stator.Selain itu akan timbul medan elektromagnet dan akan menarik pressure plate dan menekan permukaan gesek pulley. Hal ini menyebabkan pressure plate berputar mengikuti putaran pulley, akibatnya kompresor akan berputar. Tiga bagian magnetic clutch sebagai berikut.

  1. Stator, merupakan gulungan magnet (magnet coil) yang terpasang pada housing kompresor.
  2. Rotor, merupakan bagian berputar yang berhubungan dengan crank shaft (poros) mesin dengan perantaraan pulley belt. Di antara permukaan bagian dalam dari rotor dan front housing dari kompresor terpasang bearing.
  3. Pressure Plate, merupakan komponen yang dipasang pada crank shaft (poros) kompresor.

 

          c.       Thermostat (Thermoswitch)

Alat ini bekerja memberikan sinyal kondisi temperatur kabin kompresor secara otomatis. Di dalam thermostat terdapat sensor yang akan mendeteksi suhu pada evaporator. Apabila thermostat rusak, evaporator bisa membeku karena pemutus arus listrik tidak berfungsi. Tanda-tanda kerusakannya antara lain dapat diketahui dengan keluarnya asap dari kisi-kisi AC, serta  adanya tetesan air seperti embun yang keluar dari evaporator. Selain mengatur temperatur, fungsi thermostat pada AC mobil adalah sebagai pengatur proses kerja kompresor AC. Sistem kerja  thermostat menggunakan tabung indra panas yang di dalamnya berisi gas yang sangat peka terhadap perubahan suhu (mempunyai koefisien mulai yang tinggi). Tabung indra panas ini terpasang pada evaporator di bagian saluran angin keluar.

Kerja kompresor terjadi bila suhu disekitar tabung meningkat lebih tinggi daripada suhu yang telah diatur sebelumnya. Ketika suhu penguapan refrigerant cair di dalam evaporator naik, gas di dalam tabung indra panas akan memuai danmendorong alas diafragma ke atas. Dengan demikian, sakelar yang berhubungan dengan magnetic clutch akan  mendapatkan supply listrik, sehingga kompresor bekerja. Sebaliknya, jika suhu pada saluran angin keluar di evaporator turun melewati batas normal, gas di dalam tabung indra panas akan ‘menciut’. Alas diafragma yang sebelumnya terdorong dengan tekanan muai gas akan kembali ke bawah karena tarikan pegas, sehingga sakelar memutuskan arus listrik yang menuju ke magnetic clutch, akibatnya kompresor pun akan berhenti.

 

        d.      Pengatur Suhu Elektronik(Thermistor)

Thermistor adalah sebuah resistor yang mempunyai koefisien thermal negatif pada sistem AC yang menggunakan amplifier. Artinya semakin rendah suhunya, semakin tinggi resistansinya, sebaliknya semakin tinggi suhunya, akan semakin rendah pula resistensinya. Sifat ini dimanfaatkan oleh amplifier untuk menghidupkan dan mematikan kompresor. Pada suhu tinggi dan resistansi thermistor rendah, maka saat itulah amplifier akan mengalirkan arus listrik dari bateray ke magnetic clutch, sehingga kompresor bekerja dan terjadi pendinginan. Namun pada saat suhu rendah, resistansi thermistor tinggi, sehingga amplifier akan memutuskan aliran listrik dari baterai ke magnetic clutch dan kompresor tidak bekerja. Dengan adanya thermistor, pengaruh buruk akibat terlalu rendahnya suhu terhadap kenyamanan ruang dan keamanan komponen unit pendingin dapat dihindarkan.

      

            e.      Pressure Switch

Pada tekanan refrigerant yang tidak normal, misalnya akibat pemampatan pada sistem AC, maka pressure switch akan bekerja dengan cara memutuskan atau menghubungkan aliran listrrik yang menuju ke kompresor. Pada sistem AC terdapat berbagai jenis pressure switch, tetapi yang paling sering digunakan adalah dual pressure switch. Pressure switch terpasang pada pipa yang berisi cairan di antara receiver dan katub ekspansi. Alat ini mampu mendeteksi ketidaknormalan tekanan di dalam sistem dan akan memutuskan kopling magnet jika terjadi tekanan yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, sehingga kompresor pun berhenti bekerja. Komponen-komponen sistem AC mobil akan mengalami kerusakan jika tekanan pada sistem terlalu tinggi. Pada tekanan 448 Psi untuk 134a dan 378 Psi untuk R-12, pressure switch akan bekerja dan mematikan kopling magnet.

Jika terdapat kebocoran pada pipa, seal, dan pada sambungan antarkomponen, sehingga tekanan dalam sistem cukup rendah, sekitar 28 Psi(R-134a) dan 30 Psi(R-12), pressure switch akan bekerja dan mematikan kopling magnet. Apabila tekanan refrigerant keluar dari batas normal, akan mengakibatkan kerusakan pada sistem AC keseluruhan. Tekanan refrigerant yang terlalu tinggi juga akan memecahkan pipa-pipa (hose) dan merusak kompresor atau shaft seal kompresor. Untuk mencegah hal ini, maka dipasang sakelar tekanan tinggi(high pressure switch). High pressure swicth akan memutuskan arus listrik dari baterai ke magnetic clutch, jika tekanan refrigerant disisi tekanan tinggi menc apai 280-350 Psi. Terlebih, kebanyakan kompresor yang digunakan AC mobil adalah tipe swash plate, sehingga sedikit saja terdapat kelainan pada sistem pelumasan dapat berakibat cukup fatal.

Jika terjadi kebocoran sirkulasi AC, refrigerant dan minyak pelumas kompresor akan ikut terbuang, akibatnya pelumas kompresor pun akan berkurang. Kekurangan minyak pelumas akan mengakibatkan kerusakan kompresor. Untuk mencegah hal ini, maka dipasang sakelar tekanan rendah (low pressure switch), sehingga terjadi pada kebocoran, low pressure switch akan memutuskan aliran listrik dari baterai ke magnetic clutch. Dengan sendirinya kompresor akan berhenti bekerja dan mencegah kerusakan. Low pressure switch akan bekerja pada tekanan 30 kurang lebih  3 Psi

        

         f.        Relay

Untuk mengalirkan arus listrik ke  magnetic clutch, blower motor, dan ke peralatan lainnya pada sistem AC mobil, diperlukan relay pengaman. Relay pengaman diperlukan untuk mencegah kerusakan pada kunci kontak. Aliran listrik tidak bisa langsung dari battery ke magnetic clutch ataupun ke blower motor tanpa melalui kunci kontak, sehingga titik-titik kunci kontak akan cepat aus (terbakar). Hanya dengan mengalirkan arus listrik yang kecil ke coil relay, sudah bisa mengalirkan arus listrik yang cukup besar dari battery ke magnetik clutch ataupun ke blower motor melaui kontaktif relay. Jika kunci kontak memutuskan arus listrik ke coil relay, maka kontaktif relay akan terbawa secara otomatis, sehingga arus listrik dari batterai ke magnetic clutch ataupun ke blower motor terputus.

      

          g.       Amplifier

Amplifier merupakan rangkaian elektronik yang berfungsi mengatur kerja AC nobil, agar selalu  dalam kondisi aman dan sesuai dengan keinginan pemakai.Pada prinsipnya, amplifier bekerja sebagai relay otomatis yang menghubungkan dan memutuskan aliran listrik dari baterai yang menuju ke magnetic clutch. Terdapat dua jenis amplifier yang digunakan pada AC mobil yaitu  temperature control amplifier (pengatur suhu) dan temperatur control idling stabilizer amplifier.

 

 

            1.       Pengatur Suhu (Temperature Control)

Jenis amplifier temperature control bekerja mengatur suhu dari ruangan yang didinginkan, sehingga selalu dalam kondisi ideal. Rangkaian dasar temperatur control adalah thermistor dan temperature control resistor. Mengenai thermistor sudah diuraikan sebelumnya, sedangkan temperature control resistor adalah suatu variabel resistor yang nilai resistensinya dapat diubah-ubah secara manual. Jika variabel resistor ditetapkan pada nilai tertentu, berarti sama saja dengan menetapkan suhu ruangan yang didinginkan pada batas-batas tertentu.

Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, nilai resistensinya dari resistensinya dari thermistor sesuai dengan perubahan suhu. Dengan sifatnya tersebut, thermistor pada rangkaian temperature control berfungsi sebagai sensor suhu berdasarkan perubahan nilai resistensi thermistor digabungkan dengan nilai resistensinya temperature control resistor. Hasilnya, dikirim ke amplifier sebagai suatu sinyal listrik. Namun pada amplifier sensor, suhu diolah lagi secara elektronik yang hasilnya dapat menutup dan membuka kontraktif relay di amplifier.

 

            2.       Idling Stabilizer Amplifier

Idling stabilizer amplifier berfungsi sebagai pengatur AC mobil agar selalu bekerja pada batas minimal putaran mobil. Hal ini dimaksudkan agar pada saat putaran rendah, mesin tidak mengalami kelebihan beban (overload) karena sistem AC bekerja. Sumber sensor putaran minimal mesin diambil dari sistem pengapian, yaitu minus (-) ignition coil. Sinyal listrik yang didapat, kemudian diolah secara elektronik di dalam amplifier yang hasilnya dapat membuka dan menutup kontak relay amplifier. Selanjutnya, sinyal listrik yang menghubungkan baterai dengan magnetic clutch diatur, agar hanya bekera mengalirkan arus listrik dari battery ke magnetic clutch pada batas putaran minimal (umumnya 850-1.050 rpm)

 

 

 

 

Regards,

OMEGA AC MOBIL
Jln.Sutorejo Utara 9 No.34
Surabaya – Jawa Timur
(031) 7033 9033 – 7827 2626 -593 2945
HP : 0853 800 33325 – 0817 0324 5655
Pin BB : 22FE4585
Email  :omegaacmobil@gmail.com

Copyright © 2009, OmegaAcMobil.com - All Rights Reserved.